Nexxia Accounting

Blog › Akuntansi · 30 Oktober 2026

Contoh Laporan Laba Rugi UMKM dan Cara Membuatnya, Langkah demi Langkah

Susunan laporan laba rugi untuk UMKM, contoh lengkap untuk kafe dari penjualan sampai laba bersih, cara membaca marginnya, dan kesalahan pencatatan yang paling sering membuat laba terlihat salah.

Laporan laba rugi menjawab satu pertanyaan sederhana: dalam periode tertentu, usaha Anda untung atau rugi, dan berapa besarnya? Laporan ini juga yang biasanya diminta bank saat mengajukan pinjaman, dan menjadi dasar menghitung pajak.

Susunan laporan laba rugi

Untuk UMKM, susunan yang paling mudah dibaca adalah bertingkat (dari atas ke bawah):

  1. Penjualan bersih: penjualan dikurangi retur dan diskon.
  2. Harga pokok penjualan (HPP): biaya barang atau bahan yang terjual.
  3. Laba kotor = penjualan bersih − HPP.
  4. Beban operasional: gaji, sewa, listrik, pemasaran, penyusutan peralatan, dan biaya rutin lainnya.
  5. Laba usaha = laba kotor − beban operasional.
  6. Pendapatan dan beban lain-lain: hal di luar usaha utama, misalnya bunga bank atau bunga pinjaman.
  7. Laba sebelum pajak, lalu dikurangi pajak penghasilan.
  8. Laba bersih.

Standar akuntansi untuk usaha mikro, kecil, dan menengah (SAK EMKM) menyebut pos pendapatan, beban keuangan, dan beban pajak di laporan laba rugi. Susunan bertingkat di atas tetap sejalan dengan standar itu, dan jauh lebih berguna untuk mengambil keputusan.

Contoh: kafe, satu bulan

Kafe milik Pak Andi (wajib pajak orang pribadi) untuk Oktober 2026. Omzetnya sejak Januari sudah melewati Rp500 juta, jadi PPh Final 0,5% berlaku penuh bulan ini.

Keterangan Nilai
Penjualan (setelah diskon) Rp85.000.000
HPP (bahan baku terpakai) (Rp30.600.000)
Laba kotor Rp54.400.000
Gaji karyawan (Rp18.000.000)
Sewa tempat (Rp8.000.000)
Listrik, air, gas (Rp3.200.000)
Pemasaran dan promo (Rp1.500.000)
Penyusutan peralatan (Rp1.250.000)
Biaya transaksi bank dan QRIS (Rp600.000)
Lain-lain (Rp900.000)
Total beban operasional (Rp33.450.000)
Laba usaha Rp20.950.000
Bunga tabungan Rp50.000
Bunga pinjaman bank (Rp750.000)
Laba sebelum pajak Rp20.250.000
PPh Final 0,5% × Rp85.000.000 (Rp425.000)
Laba bersih Rp19.825.000

Perhatikan bahwa PPh Final UMKM dihitung dari omzet, bukan dari laba. Kalau usaha Anda memakai tarif umum, pajaknya dihitung dari laba setelah koreksi fiskal. Aturan terbaru ada di artikel kami tentang PPh Final UMKM setelah PP 20/2026.

Cara membaca hasilnya

  • Margin laba kotor = Rp54.400.000 ÷ Rp85.000.000 = 64%. Artinya, dari setiap Rp100.000 penjualan, Rp36.000 habis untuk bahan. Kalau angka ini turun dari bulan ke bulan, cek harga bahan atau porsi.
  • Beban operasional menghabiskan 39% dari penjualan, dan gaji adalah pos terbesarnya.
  • Margin laba bersih = Rp19.825.000 ÷ Rp85.000.000 = sekitar 23%.

Satu bulan saja jarang cukup untuk menilai usaha. Bandingkan dengan bulan lalu dan bulan yang sama tahun lalu, karena banyak usaha punya musim ramai dan sepi.

Langkah membuatnya

  1. Tentukan periode: bulanan untuk memantau usaha, tahunan untuk pajak.
  2. Kumpulkan penjualan dari nota, struk kasir, dan mutasi rekening. Kurangi retur dan diskon.
  3. Hitung HPP dari stok awal, pembelian, dan stok akhir hasil opname. Caranya ada di artikel cara menghitung HPP.
  4. Kelompokkan beban sesuai jenisnya dari bukti pembayaran.
  5. Hitung penyusutan untuk peralatan yang dipakai lebih dari setahun.
  6. Pisahkan pendapatan dan beban di luar usaha utama.
  7. Hitung pajak, lalu laba bersih.

Kesalahan yang sering terjadi

  • Uang pribadi tercampur dengan uang usaha. Pengambilan pemilik (prive) bukan beban usaha, jadi tidak boleh mengurangi laba.
  • Cicilan pinjaman dicatat semuanya sebagai beban. Yang menjadi beban hanya bunganya. Pokok pinjaman mengurangi utang.
  • Membeli peralatan dicatat sebagai beban sekaligus. Mesin kopi seharga Rp30 juta dipakai bertahun-tahun, jadi bebannya dibagi lewat penyusutan.
  • Pembelian bahan dianggap sama dengan HPP. Bahan yang masih ada di gudang belum menjadi biaya.
  • Penjualan dicatat saat uang masuk, bukan saat transaksi terjadi, sehingga penjualan tempo di akhir bulan masuk ke bulan yang salah.

Di Nexxia

Di Nexxia, laporan laba rugi tersusun otomatis dari transaksi harian:

  • Faktur penjualan dan struk dari Nexxia POS langsung masuk ke penjualan dan HPP.
  • Beban dari kas dan bank masuk ke akun bebannya masing-masing, dan penyusutan aset tetap dihitung otomatis tiap bulan.
  • Laporan Laba/Rugi bisa dibandingkan dengan periode sebelumnya, dan tersedia per proyek atau per departemen.
  • Laporan Laba Kotor per Barang menunjukkan menu atau barang mana yang paling menguntungkan.
  • Semua laporan bisa diekspor ke Excel dan PDF untuk bank atau konsultan pajak.